Langsung ke konten utama

Namamu

Malam ini kau titipkan segaris bayang, proyeksi yang sebatas kerlip tata surya menggantung
Tentang sebuah perasaan gusar yang perlahan menjelma
Menyulam bait dengan penuh kecemasan


Lalu lembaran yang bermuara pada kaki langit
Menceritakan,
Tangan-tangan tanpa genggam
Hiruk pikuk bertalu dan mengeja satu


Kali ini biar ku pintaskan rindu yang sibuk menyandera waktu
Mau apa lagi dia dari sebentuk tangkai yang tak lagi utuh?
Telah terjatuhnya ia ke permukaan pasir hitam
Mengerang,
Mencari arah angin yang tak kunjung bertemu


Saat ini,
Terbelahnya bulan menjadi saksi
Mengenai kata yang tak lagi pasti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Relativitas

Semua mungkin sepakat sama gue kalo pagi ini diawali dengan kekompakan media massa dalam hal berita. Mulai dari media cetak, elektronik, sosial, sampe media nature. Oke maap, itu Melia. Iya, jadi berita pagi ini itu seragam semua tanpa terkecuali. Tanpa memandang yang paling beda sampai yang paling baru. Beritanya apa? Beritanya adalah kenaikan harga BBM yang bukan jadi isu lagi tapi udah jadi kenyataan. Wuihhh, berita yang sensitif dan bukan termasuk berita populis buat masyarakat kan? Wajar aja langsung geger dimana-mana. Dan pom bensin di h-1 itu udah kek rumah makan padang, tapi gratisan. Kebayang kan ramenya kek mana? Mungkin kenaikan bbm