Langsung ke konten utama

57/90

Seorang masokis penggiat rasa yang mengiris.
Tidak laik kau hidup dalam benang-benang seumpama tangis, karena kau menikmati setiap getir pahitnya berburu peluh selagi melihat realitas yang telah habis.

Masokis yang terhormat, hilang hatimu dalam ketiadaan dan akhirnya tamat.

Merayakan berulang-ulang pesta kematian sebuah dongeng perkara tangan yang tak pernah kunjung. Belikat yang tak jua melekat. Inginmu sepotong harap diantara teriknya fana?
Menengadahkan jemari tiap sepertiga malam, melucuti takdir dengan kata semenjana. Sepanjang yang kau ucap, sama sekali berarti nihil.

Tengah apa dirimu saat ini?
Selain mencoba membakar ranting di dasar laut, atau menimba sumur untuk mengisi sungai?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Relativitas

Semua mungkin sepakat sama gue kalo pagi ini diawali dengan kekompakan media massa dalam hal berita. Mulai dari media cetak, elektronik, sosial, sampe media nature. Oke maap, itu Melia. Iya, jadi berita pagi ini itu seragam semua tanpa terkecuali. Tanpa memandang yang paling beda sampai yang paling baru. Beritanya apa? Beritanya adalah kenaikan harga BBM yang bukan jadi isu lagi tapi udah jadi kenyataan. Wuihhh, berita yang sensitif dan bukan termasuk berita populis buat masyarakat kan? Wajar aja langsung geger dimana-mana. Dan pom bensin di h-1 itu udah kek rumah makan padang, tapi gratisan. Kebayang kan ramenya kek mana? Mungkin kenaikan bbm